Nilai-nilai
budaya lokal dewasa ini kian luntur, bahkan menghilang di masyarakat.
Kecenderungan ini hampir terlihat dalam berbagai kehidupan, baik sosial,
politik, maupun hukum. Dalam pembahasan ini SIKAP membahas tentang arti
dari plularisme yang sesungguhnya dalam konteks lunturnya nilai dan
kebudayaan.
Indonesia
terkenal dengan keragamannya namun hal itu diterima hanya sebagai fakta
bukan sebagai prinsip yang mengarahkan. Terlebih lagi masa depan
pluralisme di Indonesia masih ditentukan oleh negosiasi politik antara
elit agama dan elit negara. Sehingga toleransi keragamaan di Indonesia
menjadi amat rapuh.
Keragaman
Indonesia tak hanya tercermin dari budayanya, tapi juga dari etnis,
bahasa, agama, dan sumber daya alamnya. Sebelum agama-agama besar masuk
ke Indonesia seperti Budha, Islam, Kristen dan yang lainnya, masyarakat
pribumi telah hidup dengan berbagai kepercayaan lokal, yang kini masih
dipraktikkan oleh beberapa suku di pedalaman.
Untuk
mengelola keragaman ini para pendiri bangsa memutuskan sebuah platform
bersama, yakni Pancasila, dengan lima nilai inti: Ketuhanan,
Kemanusiaan, Persatuan, Demokrasi, dan Keadilan Sosial.
Nilai-nilai
ini mengatur kehidupan masyarakat. Peran penting agama dalam kehidupan
publik diakui oleh sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa”, seharusnya
sila ini diimplementasikan untuk tidak mendukung agama tertentu,
termasuk Islam—sebagai agama mayoritas—untuk
menjadi ideologi negara. Namun pada praktiknya justru negara terkadang
membiarkan beberapa kelompok dari agama tertentu untuk mengedepankan
kepentingannya dengan cara-cara kekerasan. Seperti kasus-kasus
penyerangan dan juga pemaksaan terhadap kalangan minoritas.
Menanggapi peristiwa ini, pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama SKB 3 Menteri; Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri, yang melarang kalangan Ahmadiyah untuk menyebarkan ajaran mereka demi “menjaga kerukunan umat beragama serta ketenteraman dan ketertiban kehidupan masyarakat”.
Contoh
lain dari tidak adanya kebijakan yang jelas adalah ketika pemerintah
tidak mengambil posisi menyangkut fatwa yang dikeluarkan Majelis Ulama
Indonesia pada tahun 2005 yang melarang kaum Muslim untuk mengikuti
paham pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama yang sah.
Sementara
itu, lunturnya nilai-nilai pancasila diperparah oleh tidak adanya
sinkronisasi antara ucapan dengan tindakan dari para pejabat negara
dalam proses berkehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang
justru amat jauh dari nilai-nilai Pancasila dan kebudayaan.
Perilaku
yang tidak baik serta kurangnya komitmen dan tanggungjawab dari para
pemimpin bangsa dalam pengamalan nilai-nilai Pancasila telah menjalar
pada lunturnya nilai-nilai budaya di masyarakat dan telah mendorong
munculnya kekuatan baru yang tidak melihat nilai kebudayaan sebagai
falsafah dan pegangan hidup bangsa Indonesia. Akibatnya, terjadilah
kekacauan dalam tatanan kehidupan berbangsa, di mana kelompok tertentu
menganggap nilai-nilainya yang paling baik.
Taufiqurrahman selaku Center For Information and Development Studies” berpendapat bahwa “pluralisme merupakan
sikap saling toleransi dan menghargai bukan hanya antar agama saja,
namun juga antar budaya. Meskipun kita tahu kenyataannya pluralisme
belum bisa berjalan di Indonesia. Namun pluralisme dapat di lakukan
dengan cara sikap tidak saling mengganggu dan mengusik satu sama lain.”
Beliau menambahkan bahwa karena pemetaan masalah yang sebenarnya belum diketahui dengan jelas, maka konflik antar agama dan budaya kerap kali terjadi. Dalam hal ini peran pemerintah dituntut untuk lebih tegas dalam mengatur hukum yang berlaku agar mampu meredam konflik-konflik tersebut.
“Multikulturalisme
apa bila tidak di atur dengan tepat oleh pemerintah maka akan menjadi
bom waktu yang siap untuk meledak kapan saja dan berpotensi memecah
belah persatuan di indonesia, pluralisme di Indonesia saat ini masih
dalam tahap perkembangan, dan dapat di katakan bahwa indonesia saat ini
masih belum merdeka akan pluralisme”, ujar beliau dengan nada yang
begitu serius.
Contoh dari pluralisme di indonesia menurut beliau adalah bersatunya rakyat Indonesia pada momentum Reformasi tahun 1998 dimana penggulingan kekuasaan Presiden Soeharto. Mereka bersama-sama bekerjasama untuk bebas dari kediktatoran Rezim Tiran Soeharto”.
Kini
parlemen tengah membahas kemungkinan merevisi KUHP. Ini adalah
kesempatan bagi kalangan masyarakat sipil untuk mendorong amandemen
pasal yang melegalkan investigasi dan hukuman bagi kelompok-kelompok
yang menyimpang dari doktrin-doktrin agama untuk melindungi setiap warga
negara dari intimidasi atau kekerasan ketika menjalankan agama dan kepercayaan mereka.
Harmoni
sosial yang sesungguhnya tak akan terwujud dengan membisukan keragaman;
itu hanya bisa diraih ketika hak-hak setiap warga negara dipenuhi, dan
setiap kelompok bebas dari diskriminasi agama. Agar ini terwujud, negara
tidak boleh memihak pada doktrin agama manapun.
Era
globalisasi yang sangat pesat berpengaruh pada kehidupan di suatu
negara khususnya di Indonesia sendiri. Globalisasi sendiri membawa
dampak positif dan negatif bagi kehidupan di masyarakat. Salah satu
dampak positifnya adalah memudahkan masyarakat untuk berkomunikasi dan
bertukar informasi secara cepat dan mudah. Sedangkan salah satu dampak
negatifnya adalah budaya luar yang negatif dapat dengan mudah masuk ke
ruang lingkup masyarakat. Dan dampak negatif itu sudah meracuni
kehidupan masarakat Indonesia generasi muda
Indonesia. Yang menjadi masalah yang paling pokok akibat atau dampak
lainnya adalah budaya Indonesia sendiri di lupakkan oleh generasi muda.
Sehingga budaya Indonesia mulai hluntur atau dilupakkan oleh generasi
muda Indonesia
Pengertian budaya
Budaya
merupakan hasil dari budi dan daya manusia suatu wilayah. Budaya
menunjukan harkat dan martabat suatu masyarakat atau negara. Semakin
tinggi nilai budaya yang dimiliki suatu negara maka harkat dan martabat
suatu negara itu makin tinggi pula. Intinya budaya menunjukan identitas
suatu bangsa. Masing-masing bangsa atau negara mempunyai budaya yang
berbeda-beda. Budaya juga terdiri dari budaya kesenian,
kebiasaan dll. Budaya yang lahir di indonesia menurut kami sifatnya
sangat mendidik, mempunyai nilai didik yang sangat tinggi
Faktor penyebab budaya Indonesia semakin luntur
1. Masuknya budaya baru dari luar tanpa adanya filteralisasi(penyaringan)
2. Kurangnya pengetahuan yang dimiliki generasimuda Indonesia tentang budaya Indonesia
3. Generasi
muda Indonesia cenderung meniru budaya luar negeri yang belum tentu
budaya luar cocok atau sesuai dengan kehidupan masyarakat di Indonesia
4. Pemerintah kurang perhatian atau kurang menekankan pendidikan tentang budaya Indonesia
Dampak-dampak dari lunturnya budaya Indonesia.
Dampaknya
akan sangat berbahaya karena indonesia akan kehilangan jati diri dan
ciri khasnya. Dan itu akan membuat harga diri Indonesia rendah di mata
negara lain. Dan itu sudah terjadi contohnya ketika Malaysia berani
mengklaim beberapa kebudayaan Indonesia. Selain itu Indonesia juga akan
di kuasai oleh budaya luar sedangkan budaya Indonesia sendiri dilupakkan
Upaya agar budaya Indonesia tidak semakin luntur atau hilang.
Pemerintah
sebagai pengawas sekaligus pembimbing segala sesuatu yang ada di
Indonesia harusnya lebih aktif dalam menekankan pendidikan tentang
budaya Indonesia dengan cara menambah jam pelajaran tentang kebudayaan
khususnya untuk kebudayaan Indonesia sendiri. Dan selain itu untuk
membangkitkan lagi kebudayaan Indonesia yang makin luntur atau
dilupakkan oleh generasi muda tidak hanya pemerintah saja yang bergerak
tapi semua komponen yang ada harus bekerja sama termasuk generasi muda
itu sendiri. Caranya dengan pendidikan karakter yang diusulkan oleh
presiden Indonesia SBY. Pendidikan karakter haru segera diterapkan.
Generasi muda harus segera disadarkan bahwa budaya dari luar yang
negatif dapat menghancurkan negara kita sendiri. Selain itu cara
pendidikan tentang budaya indonesia harus dengan cara yang menarik agar
generasi muda menjadi tertarik untuk mempelajarinya.
Contoh Budaya yang mulai luntur
Budaya
kesenian, misalnya wayang kulit. Kebanyakan generasi sudah melupakan
bahkan ada yang tidak mengenal lagi. Ini sunggung memprihatinkan
tentunya.
Kesimpulan
dari saya : Agar budaya kita tetap lestari atau tidak semakin luntur,
kita sebagai generasi muda perlu menyaring budaya dari luar, yang
positif kita terima dan kita ambil yang negatif kita hindari. Dan
sebagai generasi muda jangan malu untuk mempelajari budaya kita sendiri
Sumber : Mei & Rudi.red
http://pusatkreativitaskita.blogspot.com/2012/03/makin-lunturnya-budaya-indonesia.html
http://pusatkreativitaskita.blogspot.com/2012/03/makin-lunturnya-budaya-indonesia.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar